Riset Celios: 46 Persen Responden Was-was Penyaluran Makan Bergizi Gratis Tak Efisien

Riset Celios: 46 Persen Responden Was-was Penyaluran Makan Bergizi Gratis Tak Efisien

46 persen responden riset Celios was-was ada penyimpangan, telatnya data makanan, hingga korupsi pada program makan bergizi gratis. Halaman all

(Kompas.com) 30/12/24 13:30 12687

JAKARTA, KOMPAS.com - Studi Center of Economic and Law Studies atau Celios baru-baru melakukan riset terhadap program makan bergizi gratis yang akan dimulai awal Januari 2025.

Riset Celios menunjukkan, sebanyak 46 persen responden menyatakan khawatir terkait penyaluran makan bergizi gratis yang tidak efisien.

“Studi kami mengungkapkan bahwa 46 persen responden juga ternyata khawatir terhadap adanya penyaluran yang tidak efisien. Ini disebabkan karena banyak hal, ada penyimpangan, kemudian telatnya data makanan, kemudian ada yang namanya korupsi tentunya di dalamnya, dan kekurangan nutrisi di dalam menu makanan,” kata peneliti Celios Bakhrul Fikri saat memaparkan data dalam konferensi pers daring, Senin (30/12/2024).

Fikri juga menyoroti besaran harga per porsi makan bergizi gratis yang berubah-ubah.

“Terakhir yang harusnya Rp15.000, kemudian diturunkan lagi menjadi Rp12.000. Sempat juga ada tanggapan bahwa nanti akan diturunkan lagi menjadi Rp7.500, dan akhirnya terakhir sekali adalah Rp10.000,” kata Fikri.

Fikri mengatakan, program makan bergizi grazis berpotensi terjadi atau berujung pada skandal korupsi.

“Karena, bagaimana pun, program makan bergizi gratis ini akan erat kaitannya dengan jenis pengadaan barang dan jasa atau PBJ,” kata Fikri.

Celios kemudian menukil data Indonesia Corruption Watch (ICW) bahwa sepanjang 2023, kasus korupsi pengadaan barang dan jasa menyumbang 39 persen dari total kasus (791).

Fikri mengatakan, potensi yang paling besar dari program makan bergizi gratis adalah pemalsuan data.

Menurut dia, belum ada persyaratan yang jelas terkait persyaratan penerima manfaat dari makan bergizi gratis.

“Belum ada mekanisme yang jelas dari pemerintah, atau informasi yang jelas ke publik dari pemerintah,” kata Fikri.

“Kalau anak sekolah, anak sekolah umur berapa, sekolah di mana dan dia orangtuanya berpendapatan di kisaran berapa. Pemalsuan data bisa sangat besar potensi untuk dimanfaatkan dan terjadi celah korupsi,” ujar dia.


Kemudian, lanjut Fikri, ada juga potensi terjadinya korupsi terkait pengadaan dan distribusi bahan makanan. Misalnya kolusi antara penjabat dan penyedia makanan untuk memenangkan tender dengan harga yang lebih tinggi.

Selain itu, 52 persen responden juga mengkhawatirkan kualitas makanan yang akan disajikan dalam program makan bergizi gratis.

Adapun penelitian Celios ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan metode survei yang disebarkan ke seluruh provinsi di Indonesia.

Survei melibatkan 1.858 responden dari berbagai daerah yang mencakup wilayah pedesaan, pinggiran kota, dan perkotaan, untuk memastikan pandangan dari seluruh lapisan masyarakat terwakili dengan baik.

Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak berdasarkan representasi nasional, dan data dikumpulkan secara digital melalui iklan di Facebook dan Instagram. Usia responden 18 tahun ke atas.

#jakarta #makan-bergizi-gratis

https://money.kompas.com/read/2024/12/30/133000726/riset-celios--46-persen-responden-was-was-penyaluran-makan-bergizi-gratis-tak