Limbah dari Program Makan Bergizi Gratis "Bebani" Kota Surabaya
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya yang dimulai pada Senin (13/1/2025) mengundang perhatian soal pengelolaan limbahnya. Halaman all
(Kompas.com) 14/01/25 20:42 17349
SURABAYA, KOMPAS.com - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya yang dimulai pada Senin (13/1/2025) mengundang perhatian soal pengelolaan limbahnya.
Pada hari pertama, Pemkot Surabaya menyasar lima sekolah dengan total lebih dari 3.300 siswa.
Namun, jumlah tersebut masih jauh dari total 3.352 sekolah negeri dan swasta di Surabaya untuk semua jenjang, seperti data Dapo.Kemendikbud.go.id.
Koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya, Wawan Some, menyoroti potensi masalah pengelolaan limbah yang bakal membebani Kota Surabaya.
"Sampah ini akan menjadi beban kota," ujar Wawan di Surabaya, Selasa (14/1/2024).
Wawan menjelaskan, untuk memasukkan limbah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Pemerintah Kota Surabaya harus membayar Rp185 ribu per ton.
Dia sebutkan, sisa makanan MBG yang masih berada di tempat makan akan dikembalikan ke dapur, kemudian diserahkan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
"Nah kerjasama ini aman terus kami pantau, kami awasin," imbuh dia.
Lebih lanjut, Wawan mengusulkan agar Pemkot Surabaya bekerja sama dengan masyarakat dalam pengelolaan limbah sampah MBG menggunakan metode magot, sehingga tidak menumpuk di satu tempat.
Ia mengingatkan, jika dikelola oleh pihak swasta, biaya yang dikeluarkan akan lebih besar dan pertanggungjawabannya bisa dipertanyakan.
"Sekarang bagaimana dapur bisa kerja sama dengan DLH dan kampung, karena Surabaya juga punya 12 TPS 3R dan 28 rumah kompos yang bisa dimanfaatkan," ucap dia.
Komunitas Nol Sampah juga berencana mengajak sekolah-sekolah di Surabaya untuk menghindari penumpukan sampah berlebihan akibat program MBG.
"Kami mengajak untuk bikin program makan dihabiskan. Jadi didorong untuk habis karena kalau jadi sampah akan jadi gas metan," tutur dia.
Sebagai alternatif, setiap siswa diminta untuk membawa kotak makan dari rumah agar sisa makanan bisa dibawa pulang.
"Kemarin ada yang usul, paguyuban kelas orangtuanya mesti menyediakan lauk-lauk tertentu untuk antisipasi kalau misal anaknya tidak cocok dengan lauk MBG," sambung Wawan.
Ia menekankan, masalah sampah di Surabaya adalah persoalan penting.
Meskipun dapat diolah, sampah makanan dapat berbahaya karena menghasilkan gas metan.
"Jangan sampai semua sampah dibuang ke TPA karena kita punya potensi magot, rumah kompos, dan masih banyak lagi," kata dia.
#pengelolaan-sampah #surabaya #limbah-makan-bergizi #komunitas-nol-sampah