Makan Bergizi Gratis di Jateng Baru 27 Titik, Ditargetkan 76 Titik di Jateng Sampai Akhir 2025
Program Makan Bergizi Gratis di Jateng baru mencakup 27 titik dengan target 76 titik pada akhir 2025 Halaman all
(Kompas.com) 11/02/25 16:13 28251
SEMARANG, KOMPAS.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahap pertama saat ini mencakup 27 titik dapur umum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 20 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Pemerintah menargetkan perluasan program hingga 76 titik SPPG pada akhir 2025.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, Yunita Dyah Suminar, menyebut bahwa setiap SPPG melayani 3.000 penerima manfaat, yang terdiri dari siswa, ibu hamil, dan balita.
Sehingga pada tahap pertama, program ini telah menjangkau 81.000 penerima manfaat, dengan mayoritas penerima adalah 72.000 siswa.
"Sudah 27 titik di 20 kabupaten/kota. Satu titik sama dengan dilayani satu SPPG untuk 3.000 penerima, yakni ibu hamil, balita, siswa SD, SMP, SMA. Tahun ini informasi dari BGN targetnya 76 titik sampai akhir 2025," ujar Yunita usai Musrenbang Jawa Tengah 2025 di Kantor Gubernur, Selasa (11/2/2025).
Perkembangan dan Evaluasi Program MBG
Saat ini, belum ada penambahan kuota penerima manfaat untuk Februari. Namun, perluasan program akan dilakukan secara bertahap dalam bulan-bulan berikutnya.
Sejauh ini, respons masyarakat terhadap MBG cukup positif. Namun, Dinkes Jateng mencatat masih ada sejumlah kendala yang perlu dievaluasi, termasuk insiden keracunan di Sukoharjo.
"Baguslah responnya. Yang penting evaluasi untuk proses-proses di SPPG itu, pertama menu, distribusinya baik, anak-anak happy. Kalau yang lain karena ini kaitannya dengan infrastruktur, kan harus ada dapur, dapurnya harus sesuai, jumlah peralatannya harus sesuai karena untuk masak banyak dalam waktu pendek," jelasnya.
Insiden keracunan makanan di Sukoharjo menjadi perhatian utama dalam evaluasi program ini.
Penyebabnya bisa berasal dari bahan makanan, cara memasak, atau peralatan yang digunakan.
"Jadi memang keracunan itu penyebabnya beberapa. Bahan makanannya, cara memasaknya atau alatnya bisa jadi. Nah kalau kemarin sudah ada penjelasan bahwa memang prosesnya kurang pengawasan, sehingga pada akhirnya terjadi hal tersebut," lanjut Yunita.
Dinkes Jateng meminta SPPG lebih teliti dan berhati-hati dalam mengolah makanan guna mencegah insiden serupa terjadi lagi.
"Ini menjadi evaluasi seluruh Indonesia, seluruh SPPG untuk proses-proses mengolah makanan harus benar-benar tahu kapan harus diracik, lalu diolah, dan disajikan, jadi ada waktu-waktu yang diawasi betul. Bismillah enggak ada apa-apa lagi," harapnya.
Pengawasan oleh Pemprov Jateng
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terlibat dalam pengawasan pelaksanaan program MBG, bekerja sama dengan dinas terkait.
"Iya, mengawasi dalam arti ada dinas pangan nanti logistik harus tersedia, dinkes kalau ada keracunan, kemudian memastikan dapur ada Sertifikat Laik Hygiene dan Sanitasi (SLHS). Kemarin di Sukoharjo sudah ada sebetulnya," pungkasnya.
Dengan adanya evaluasi dan pengawasan ketat, diharapkan program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa kendala di masa mendatang.