Makan Bergizi Gratis di Jateng Dievaluasi, Insiden Keracunan di Sukoharjo Jadi Sorotan

Makan Bergizi Gratis di Jateng Dievaluasi, Insiden Keracunan di Sukoharjo Jadi Sorotan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jateng dievaluasi. Insiden keracunan di Sukoharjo jadi sorotan, pengawasan SPPG diperketat. Halaman all

(Kompas.com) 12/02/25 17:19 28841

SEMARANG, KOMPAS.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tahap 1 sudah berjalan di 27 titik yang tersebar di 20 kabupaten/kota. Dalam monitoring dan evaluasi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah menyoroti insiden keracunan di Sukoharjo beberapa pekan lalu. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, Yunita Dyah Suminar mengatakan sejauh ini masyarakat merepon baik program MBG tersebut. "Baguslah responnya. Yang penting evaluasi untuk proses-proses di SPPG itu, pertama menu, distribusinya baik, anak-anak happy. Kalau yang lain karena ini kaitannya dengan infrastruktur, kan harus ada dapur, dapurnya harus sesuai, jumlah peralatannya harus sesuai karena untuk masak banyak dalam waktu pendek," ujar Yunita saat dikonfirmasi, Rabu (12/2/2025). Namun demikian, dia menyebut masih ada sejumlah cacatan dalam pelaksanaan MBG, termasuk keracunan yang dialami puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Dukuh 03 di Kabupaten Sukoharjo, setelah mengonsumsi MBG pada Kamis (16/1/2025). Yunita menilai, keracunan terjadi karena beberapa faktor, mulai bahan masakan, proses memasak, hingga alat yang digunakan untuk memasak. "Jadi memang keracunan itu penyebabnya beberapa. Bahan makanannya, cara memasaknya atau alatnya bisa jadi. Nah kalau kemarin sudah ada penjelasan bahwa memang prosesnya kurang pengawasan, sehingga pada akhirnya terjadi hal tersebut," lanjut dia. Dia menyampaikan kelalaian SPPG dalam proses pengolahan ayam menyebabkan terjadinya keracunan. Oleh karena itu dia akan memperketat pengawasan selama proses produksi MBG. Untuk itu dia mengimbau agar SPPG lebih teliti dalam mengolah makanan agar insiden keracunan tidak terulang kembali di Jateng. Apalagi SPPG tersebut telah mengantongi Sertifikat Laik Hygiene dan Sanitasi (SLHS). "Ini menjadi evaluasi seluruh Indonesia, seluruh SPPG untuk proses-proses mengolah makanan harus benar-benar tahu kapan harus diracik, lalu diolah, dan disajikan, jadi ada waktu-waktu yang diawasi betul. Bismillah enggak ada apa-apa lagi. Iya, (kami) mengawasi dalam arti ada dinas pangan nanti logistik harus tersedia, dinkes kalau ada keracunan, kemudian memastikan dapur ada SLHS" tandas dia.

Terpisah, Ahli Gizi Universitas Diponegoro Ayu Fauziyah menilai belum ada standar gizi yang setara di seluruh daerah yang melaksanakan MBG. Bahkan masih terjadi keracunan dari makanan yang diproduksi oleh SPPG yang telah memiliki SLHS seperti di Sukoharjo. "Misalnya, protein itu harus berapa gram sih ini ayamnya atau dagingnya. Saya lihat waktu itu sempet ada foto ayamnya kecil kayak gitu. Mungkin juga perlu panduan buat distribusi makanan supaya makanan itu tetep aman gitu sampe ke anak-anak. Jadi tidak terkontaminasi gitu," tutur Ayu. Ahli Gizi yang juga Konten Kreator Pojokgizi itu mengatakan makanan yang diletakkan di suhu ruang juga rentan terkontaminasi. Kemudian risiko munculnya kontaminasi yang menyebabkan keracunan juga dapat disebabkan oleh bahan pangan dan pengolahan yang kurang bagus. "Kalau 2-3 jam itu makanan di suhu ruang itu rentan terkontaminasi, tapi juga bisa dari bahan pangan awal yang dipilih. Misalnya, ikannya kurang segar, habis itu pengolahannya juga kurang tepat itu. Bisa jadi pas distribusi jadi keracunan," beber dia. Lebih lanjut, dia berharap alih-alih memulai MBG di kota besar dan memangkas anggaran MBG untuk setiap porsinya, dia berharap agar program ini mendahulukan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) untuk mendukung pengentasan kemiskinan dan stunting. "Daripada memangkas anggaran MBG di banyak daerah, tapi kecukupan gizi makanan tersebut dikurangi, mendingan fokus di daerah tertentu dulu yang kita lihat stuntingnya tinggi, terus juga daerah 3T biar pas," tandas dia.

https://regional.kompas.com/read/2025/02/12/171932378/makan-bergizi-gratis-di-jateng-dievaluasi-insiden-keracunan-di-sukoharjo