Kepala BGN: 60 Persen Anak Indonesia Tak Miliki Akses Konsumsi Gizi Berimbang
60% anak Indonesia tidak dapat gizi seimbang. BGN luncurkan program Makan Begizi Gratis untuk atasi masalah ini! Halaman all
(Kompas.com) 19/05/25 16:39 54160
BANDUNG, KOMPAS.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dandan Hindayana mengungkapkan bahwa 60 persen anak-anak di Indonesia tidak memiliki akses untuk mengonsumsi gizi yang seimbang.
Menurutnya, sebagian besar anak di Indonesia cenderung mengonsumsi makanan yang hanya mengandung karbohidrat, sementara asupan protein dan nutrisi lainnya masih sangat kurang.
"Bahkan, anak-anak itu tidak mampu beli dan minum susu," kata Dadan saat memberikan sambutan dalam acara ‘Kick-off Piloting Perluasan Keterlibatan UMKM dalam Program MBG’ di Pondok Pesantren Yayasan Al-Kasyaf, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, pada Senin (19/5/2025).
Dadan menambahkan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto berkomitmen untuk memastikan anak-anak yang saat ini masih dalam kandungan hingga mereka berada di tingkat TK, SD, SMP, dan SMA, dapat menjadi tenaga kerja yang produktif dalam dua puluh tahun mendatang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, BGN berupaya melakukan intervensi dalam pemenuhan gizi yang seimbang melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Karena apa, kalau gizinya tidak terpenuhi maka Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yang tidak produktif," tutur Dadan.
Dadan juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam mencapai tujuan tersebut, dengan melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Ia menjelaskan, dampak dari program ini tidak hanya berfokus pada kepentingan anak-anak menuju Indonesia emas, tetapi juga pada pemerataan ekonomi.
Saat ini, terdapat sekitar 2.700 pelaku UMKM yang terlibat dalam rantai pasok makanan di 1.343 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG yang tersebar di 28 provinsi di Indonesia.
Dadan menyebutkan bahwa seluruh supplier yang terlibat dalam distribusi MBG adalah pelaku UMKM.
Mereka bekerja sama dengan MBG untuk menyuplai bahan baku seperti sayur, telur, daging, tahu, dan tempe.
“Di setiap SPPG dibutuhkan minimal 15 supplier, dan rata-rata adalah UMKM. Sekarang sudah tercatat 2.700-an yang terlibat dalam rantai pasok makanan bergizi, selain koperasi dan lain-lain,” jelas Dadan.
Ia menambahkan bahwa tenaga kerja yang terlibat dalam program ini sudah mencapai hampir 52 ribu orang, dan target tahun ini adalah untuk memiliki 30 ribu SPPG yang akan melibatkan hampir 1,5 juta pekerja.
Di Kabupaten Bandung, saat ini dibutuhkan 361 SPPG untuk menyalurkan MBG ke sekolah-sekolah.
Dadan berharap dari SPPG tersebut dapat menghasilkan Rp 361 miliar untuk para pelaku UMKM yang terlibat dalam program MBG.
“Ini ada di wilayah Kabupaten Bandung, harus ada 361 SPPG, dan akan ada uang ke Kabupaten Bandung itu Rp361 miliar,” ujarnya.
#anak-indonesia #gizi-seimbang #umkm #program-makan-begizi-gratis