Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyediakan makanan yang bergizi dan aman.Di sela ... [254] url asal
Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyediakan makanan yang bergizi dan aman.
Di sela rapat kerja nasional APJI tahun 2025 di Jakarta, Rabu, Ketua Umum APJI Tashya Megananda Yukki menyampaikan bahwa saat ini anggota asosiasi telah mengoperasikan lebih dari 50 dapur untuk Program MBG.
"Perbedaan kami, kalau misalnya MBG yang mengelola APJI, kami sudah biasa melakukan itu karena memang sudah hari-harinya kita memang berusaha di katering," kata Tashya.
"Jadi, hopefully sih untuk MBG ini, terutama yang di bawah naungan APJI, pastinya dapurnya akan lebih baik. Sebagai mitra kami memberikan yang terbaik, terutama untuk keamanan pangannya," ia menambahkan.
Ia menjelaskan bahwa mitra pengelola dapur di bawah naungan APJI semuanya anggota resmi asosiasi, sehingga asosiasi bisa berkomunikasi langsung dengan mereka mengenai pengelolaan dapur dan layanan katering dalam pelaksanaan Program MBG.
"Kita juga sampaikan kepada para anggota, ingat jaga keamanan pangannya, kualitas gizi, dan menu makanannya, pastinya harus menyesuaikan dengan anak-anak," kata dia.
APJI juga memberikan pelatihan kepada calon Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang akan menjadi pemimpin dapur pendukung pelaksanaan Program MBG.
"Insya Allah pada bulan Juni mendatang, APJI siap melatih 30.000 siswa SPPI di 17 provinsi secara serentak, di mana mereka ini akan menjadi pimpinan dapur dan ujung tonggak dalam Program MBG," kata Tashya.
Selain itu, APJI bekerja sama dengan Universitas Pertahanan RI memfasilitasi lebih dari 500 anggota APJI menjalani pelatihan untuk menjadi pengajar calon SPPI.
Beberapa waktu lalu, ramai soal permukiman warga di Dusun Cibatu, Desa Kutamakmur, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang diserang oleh koloni tikus. Fenomena ini terjadi secara tiba-tiba pada Jumat (25/10) malam lalu.
Terlibhat dari video yang viral beredar di media sosial tikus yang jumlahnya ribuan itu tiba-tiba keluar bergerombol dan menyerbu permukiman warga. Pemandangan yang bikin bulu kuduk berdiri itu terekam jelas dalam video yang beredar.
Tikus-tikus itu berlarian ke segala penjuru.
Dilansir detikJabar, Kapolsek Tirtajaya AKP Hasanuddin mengatakan para warga setempat berusaha mengusir tikus tersebut ke persawahan dengan alat seadanya. Dia mengatakan, warga juga tidak tahu tikus itu berasal dari mana.
"Karena mayoritas rumah warga dekat sawah, warga hanya berusaha mengusir koloni tikus itu ke sawah, awal munculnya tidak tahu dari mana yang jelas tiba-tiba muncul ke jalanan dan pemukiman," kata Hasanuddin saat dihubungi, Sabtu (26/10/2024) malam.
Pihaknya juga telah melaporkan peristiwa itu ke Dinas Pertanian yang berwenang. Peristiwa kemunculan tikus tersebut hanya sekejap dan saat ini sudah tidak terjadi.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Industri Pest Management Indonesia (APJIPMI) Boyke Arie Pahlevi, fenomena tersebut bisa terjadi karena beberapa hal, salah satunya fenomena alam. Fenomena alam seperti banjir, gunung meletus, dan sebagainya bisa menyebabkan tikus keluar secara bersamaan.
"Akan tetapi, bisa juga terjadi tikus melakukan migrasi secara bersamaan dikarenakan sumber makanan yang sudah habis atau menipis, dan populasi yang tikus meningkat akibat musuh alami tikus yang semakin berkurang, seperti burung hantu, biawak, ataupun ular," katanya dalam keterangan yang diterima detikcom, Senin (28/10/2024).
Boyke menambahkan, saat musim hujan, baik itu dengan intensitas sedang maupun tinggi tidak mempengaruhi penyebab tikus keluar secara bersamaan. Namun, akan berbeda jika hujan membuat sarang tikus terendam banjir.
"Kecuali (hujan) menyebabkan banjir dan mengganggu sarang tikus pada spesies tikus got," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Karawang, Rochman mengatakan, pihaknya menduga fenomena kemunculan tikus menyerang permukiman ini disebabkan oleh faktor cuaca akibat hujan yang terjadi pasca kemarau panjang.
"Dugaan sementara akibat hujan yang turun selama dua hari terakhir sehingga menyebabkan lubang-lubang tikus terendam, dan mereka muncul ke permukaan hingga menyerang pemukiman," papar Rochman, Sabtu (26/10/2024).