BEKASI, KOMPAS.com - Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang meminta jajarannya tak lagi mengubah lahan pertanian menjadi area perumahan.
Pernyataan ini diucapkan usai banjir di Kabupaten Bekasi yang nyaris melumpuhkan aktivitas warga.
"Jangan sampai lahan pertanian berubah jadi kawasan perumahan atau ruko secara sembarangan," tegas Ade saat meninjau lokasi banjir di Kampung Ranca Iga, Desa Cipayung, Cikarang Timur, pada Rabu (5/3/2025).
Buruknya pengelolaan tata ruang menjadi salah satu penyebab banjir di Kabupaten Bekasi begitu parah.
Selain itu, alih fungsi lahan yang tidak terkendali turut berkontribusi dalam bencana ini.
"Ini harus dianalisis lebih dalam agar tidak terus terulang," kata Ade.
Dalam peninjuan ini, Ade menemukan banyaknya rumah warga tidak laik huni. Maka dari itu Ade memerintahkan camat setempat mendata jumlah rumah tak layak huni untuk diperbaiki.
"Ada hikmahnya dari musibah ini. Kita jadi tahu ada rumah warga yang sudah tidak layak pakai. Ini akan masuk dalam program 100 hari kerja untuk perbaikan rumah tidak layak huni," ujar Ade.
Sebelumnya diberitakan, BPBD Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 61.648 jiwa terdampak banjir.
"Jumlah terdampak 16.371 KK atau 61.648 jiwa," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi Muchlis dalam keterangannya, Rabu.
Puluhan ribu jiwa terdampak banjir tersebut tersebar di 16 kecamatan, antara lain Babelan, Sukawangi, Tambun Utara, Cibitung, Tambun Selatan, Cikarang Selatan, Serang Baru, dan Sukatani.
Kecamatan lainnya, Cikarang Barat, Cikarang Utara, Kedungwaringin, Cikarang Timur, Bojongmangu, Cibarusah, Cikarang Pusat, dan Setu.
Hingga kini, terdapat 14 lokasi pengungsian untuk menampung warga terdampak banjir di Kabupaten Bekasi.