JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi unjuk rasa bertajuk "Indonesia Gelap" yang digelar di depan Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, pada Senin (17/2/2025) berlangsung cukup panas.
Aksi yang dimulai sejak pukul 15.00-20.25 WIB ini terus memborbardir pemerintah dengan berbagai kritikan pedas terhadap keputusan yang diputuskan selama ini.
Kritikan ini terus menggema di sepanjang aksi, menunjukkan kegelisahan massa terhadap pemerintahan saat ini.
Tak hanya kritikan secara verbal, kalimat protes juga tertuang di berbagai spanduk yang dibawa oleh para mahasiswa. Poster nyeleneh dengan desain “nakal” dan kalimat tegas juga terpampang.
Salah satu spanduk yang dibuat berisikan “Prabowo Puas, Kami Lemas” dengan warna pilok kombinasi hitam dan merah.
Sedangkan beberapa spanduk lainnya bertuliskan “Tut Wuri Efisiensi”, “EfisienShit!”, “Anaknya makan gratis, ortunya di-PHK”, “Will Prabowo come to save us?”, “#KrisisIklimKrisisDemokrasi”, dan “Kabinet Gemoy berulah lagi”.
Beberapa isu yang massa aksi bahas dalam unjuk rasa Indonesia Gelap adalah sebagai berikut:
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang naik daun sejak awal Januari 2025 ini menjadi topik terhangat yang dikritisi massa aksi Indonesia Gelap.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2024, Iqbal Cheisa Wiguna menilai realisasi program MBG tidak tepat sasaran.
“Kita melihat bahwa dalam perjalanannya (program MBG), banyak hal-hal yang kurang tepat. Misal, terkait dengan target sasarannya masih kurang tepat,” ucap Iqbal kepada wartawan di Lapangan FISIP UI, Senin (17/2/2025).
Tujuan awalnya, program ini dimaksudkan mengurangi angka stunting sekaligus langkah dalam meningkatkan kecerdasan anak.
Namun, kata Iqbal, visi itu justru tidak terlihat dalam fakta di lapangannya meski pelaksanaan program MBG baru berlangsung sebulan lebih dan masih ada evaluasi.
Salah satu hal yang menjadi kritikan dalam program tersebut adalah dugaan murid-murid yang keracunan makanan MBG.
“Ada juga kasus-kasus terkait dengan keracunan yang ada pada makanan gizi gratis,” ucap Iqbal.
Kritikan mahasiswa lainnya juga menggema pada toa dari mobil komando pertama yang tiba di depan Patung Kuda.
Salah seorang orator dari Ketua BEM Universitas Muhammadiyah mengeluhkan keresahannya tentang pendidikan yang ikut terganggu imbas kebijakan efisiensi anggaran.
"Kami enggak perlu makan yang kenyang oleh MBG (makan bergizi gratis)!" teriak Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Jakarta di hadapan massa aksi, Senin.
Ia menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap fasilitas pendidikan.
"Kami butuh pendidikan untuk menata bangsa ke depannya. Kami tidak butuh perut yang kenyang, pendidikan sangat penting!" ujarnya.
Selain itu, ia sempat menyinggung beasiswa kuliah yang ikut terusik dan berpotensi membuat ratusan ribu penerima beasiswa tidak dapat melanjutkan kuliah sebagaimana semestinya.
Saat langit semakin sore, kritikan massa aksi semakin memanas hingga membakar para semangat demonstran sekalipun gerimis terus mengguyur.
Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Satria mengkritisi kebijakan pemerintah yang mengatasnamakan efisiensi anggaran.
Pengertian efisiensi seolah tidak sejalan dengan realitas yang pemerintah terapkan, bahkan mengabaikan kepentingan rakyat.
“Efisisiensi-efisiensi, pendidikan dipotong, tapi melantik staf khusus dari influencer,” kata Satria dalam orasinya, merujuk pada pelantikan Deddy Corbuzier sebagai Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Komunikasi Sosial dan Publik.
Sorakan dari massa aksi lantas menyambut tanda sepakat pada orasi Satria.
Selain itu, Satria juga menyinggung agenda retret untuk para kepala daerah terpilih, yang direncanakan digelar pada akhir Februari 2025 mendatang.
“Efisiensi-efisiensi, tapi melakukan retreat pelatihan militer di Tidar untuk kepala daerah,” ungkap Satria.
Berbagai orasi kritikan terus terdengar bergiliran. Di penghujung aksi, mereka menuntut sebanyak 13 tuntutan untuk lekas dipenuhi atau dipertimbangkan.
Namun, hingga massa aksi bubar pada 20.25 WIB, tidak ada petinggi pemerintah yang menemui mereka untuk berdialog.